Archive for December, 2007
Ketika Teknologi Menjadi "Guru"
Sudah hampir seminggu lebih VCD edutalk Bahasa Jepang diputar berulang-ulang. Aksen native speaker yang unik membuat anak-anak, terutama si sulung Azkia (5 tahun), tertarik untuk menyimaknya. Kadang-kadang mereka tertawa terbahak-bahak saat mengulang ucapan sang native speaker yang dianggap sangat lucu. Ya, mereka kini belajar tanpa guru secara fisik. Mereka belajar dengan bantuan teknologi.
Saya sering tercengang dengan kemampuan dan juga kemauan anak-anak jaman sekarang. Saat minat belajar itu tumbuh, mereka mau belajar hal-hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan saat saya seusia mereka. Input dan teruslah beri anak-anak input, tanpa kita sadari, mereka melejit menjadi anak-anak yang banyak tahu dan terus penasaran dengan ilmu-ilmu baru.
Sekarang, malah si sulung Azkia sering mengetes mamanya, “Mama tahu nggak apa hachimitsu? aishukurimo?…..” dan lain-lain. Sayang, mamanya tak serajin mereka. Jadi, kosa kata Jepangnya kalah deh!
Sengaja saya kenalkan anak-anak pada beragam bahasa asing, walau awalnya mungkin hanya sekedar kosa kata. Beberapa sumber mengatakan, bahwa batas penguasaan aksen sebuah bahasa dibentuk pada 7 tahun pertama. Di atas usia tujuh tahun, penguasaan bahasa apapun yang dikenal anak-anak tidak sebaik ketika mereka mengenalnya sebelum usia 7 tahun. Percaya atau tidak, tak ada salahnya juga untuk dicoba. Toh, hal itu tidak merugikan kita dan anak-anak, selama mereka juga suka mempelajarinya.
Setidaknya dalam pengamatan saya terhadap si sulung yang minatnya kuat terhadap bahasa, tampak ia begitu pe de membaca dan mengucapkan ulang kata-kata Inggris yang berasal dari dialog film ataupun buku cerita. Yang jelas ia lebih fasih daripada saya, yang hampir 8 tahun mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah.
Terima kasih buat teman saya yang sudah memberi info tentang Japanese VCD. Makasih juga buat para pencipta teknologi. Dalam banyak hal, teknologi sangat membantu anak-anak saya belajar dengan mandiri.
Add comment December 30, 2007
Siluet ‘Sang Pemimpi’
Hari Minggu, 23 Desember ini kami sudah ditinggal bertiga sejak pagi. Suami saya pergi ke acara penting yang sudah lama diagendakan. Jika keluarga lain menjadikan hari Minggu sebagai liburan bersama, kami sedikit berbeda. Jadwal kami bukan ditentukan oleh hari-hari kerja umum, tapi oleh agenda-agenda yang kami buat sendiri. Bisa jadi justru di hari Senin kami bisa bersama-sama, tapi di hari Sabtu dan Minggu kami malah bekerja. Ya, begitulah kiranya khas para pekerja mandiri. Semua menjadi lebih fleksibel.
Uniknya di minggu ini, anak-anak terasa lebih kooperatif. Papanya pergi mereka santai, cium tangan dan ucapan selamat jalan begitu lancar. Si kecil Luqman yang biasanya melarang papanya pergi, kali ini terlihat rela. Dia langsung melesat, berlari menuju rumah temannya yang hanya terpisah satu rumah dari rumah kami.
Saya menghentikan sementara pekerjaan yang belum kelar. Hari ini saya meniatkan diri untuk membaca. Buku kedua Andrea Hirata yang saya beli hari Jumat (21/12) “Sang Pemimpi”, menyisakan tiga per empat bagian untuk dituntaskan. Dan… seperti halnya Laskar Pelangi, saya menemukan di sana kalimat-kalimat ’sakti’ yang menggugah kesadaran. Persahabatan dan saling berbagi membuat saya iri. Keberanian untuk bermimpi yang disuguhkan Andrea membuat saya berusaha menata kembali jalan pikiran yang selama ini tak terarah. Pelajaran berharga: Jangan remehkan siapapun, jangan segan untuk membantu siapapun, jangan takut untuk bermimpi.
Pelajaran-pelajaran itu mengalir mengisi pikiran saya yang sejenak berhenti membaca karena harus mencuci piring dan menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Ajaibnya, saya tiba-tiba disuguhi pemandangan yang tak biasa. Azkia menawarkan diri untuk membantu saya merapikan piring-piring bersih di rak.
“Mama, Kakak bantu merapikan piring-piring yang ringan, ya…” ujarnya.
Saya mengangguk saja. Tapi tak lama kemudian anak lelaki saya Luqman juga datang ke dapur. Bukan hanya piring plastik yang dirapikan, tapi juga gelas dan piring kaca diambilnya. Sesekali ia melirik saya yang masih mencuci sisa perabotan yang kotor, seolah meminta ijin untuk membantu. Lewat sudut mata saya menangkap kilatan pisau di tangannya. Ingin mencegah, tapi saya coba biarkan. Untuk merapikan pisau dan sendok yang tempatnya jauh di atas, anak kecil itu memanjat ember besar yang memang terletak di sebelah rak. Kakaknya mengambil sendok-sendok dari bawah, si adik meletakkannya di tempat sendok. Nah, rapilah sudah! Mereka berdua bekerja dengan sempurna. Surprise di hari yang agak mendung ini. Sayang baterai kamera sedang low, jadi saya tak sempat mengabadikan momentum indah itu.
Namun sebagai hadiah, saya berjanji mengajak mereka membuat mainan setelah makan siang. Indah sekali! Spirit of “Sang Pemimpi” yang memengaruhi pikiran dan jiwa saya ternyata menyebar ke sekeliling saya. Waktunya berubah menjadi lebih baik, waktunya berubah menjadi lebih optimistik, waktunya berbagi apapun dengan sahabat dan orang-orang yang kita sayangi. Itulah model kehidupan yang ditawarkan ‘Sang Pemimpi’. Dan sepertinya, itu pula hidup yang saya impikan. Selalu semangat!
Add comment December 23, 2007