Dibalik Naiknya Harga Kedelai

January 20, 2008

Satu bulan terakhir saya tak membeli beras, karena di rumah masih ada persediaan. Alangkah kagetnya hari ini, saat saya membeli beras lagi, ternyata harganya sudah jauh melambung. Berita di koran lokal – Bandung, topik pembicaraan lebih terarah pada naiknya harga kedelai. Masyarakat yang diwawancarai pun adalah pembuat tahu-tempe dan tukang gorengan. Saya tak mengira bahwa kenaikan harga justru juga melanda beras, yang jelas lebih signifikan pengaruhnya terhadap masyarakat. Apakah kenaikan harga kedelai adalah pengalihan isu?

Entah kenapa, sepulang dari warung hati saya seperti dilecut oleh sesuatu yang amat keras. Ya Tuhan, bagaimana dengan para tukang becak dan orang-orang lain yang penghasilannya pas-pasan? Belum lagi biaya sekolah, biaya berobat, biaya ini dan itu pun ternyata tidaklah murah.Banyak di antara kita memiliki penghasilan cukup, tapi menghamburkannya untuk sesuatu yang kurang perlu. Banyak di antara kita yang memiliki perbendaharaan ilmu, tapi menahannya kecuali dibayar dengan harga tinggi.

Setiap hari, di banyak tempat, kita selalu disuguhi macam-macam hal yang mengenaskan. Tukang gorengan mati karena stress dengan naiknya harga minyak dan kedelai, seorang anak bunuh diri karena nggak bisa bayar SPP, anak jalanan ditemukan terpotong-potong tanpa makna, pedagang kaki lima histeris karena dagangannya digusur, diobrak-abrik Satpol PP. Andai kita menganggap setiap tempat dan waktu adalah lahan untuk memberikan cinta, mungkin kita akan lebih banyak bersedekah dan membantu biaya pendidikan orang-orang papa daripada berwisata atau berkali-kali haji dan umrah; kita akan lebih menahan diri untuk berbelanja hal-hal yang mubazir; kita akan lebih banyak berbagi ilmu daripada berhitung untung-rugi; kita akan menanggalkan ego-ego kita ketimbang memuaskannya.

Ya, Allah. Saya benar-benar diingatkan dengan naiknya harga beras dan kedelai. Semua harus dimulai dari diri sendiri. Semoga hari ini adalah awal yang baik untuk saya dan keluarga berbenah diri.

Entry Filed under: opini. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Recent Posts

Komentar Anda

infogue on Mendesak: Kurikulum tentang…
infogue on Konsistensi: Cara Ideal untuk …
infoGue on Tanaman Obat untuk Keadaan…
Anonymous on Saatnya Pendidikan Menjadi Leb…
suwiku on Tanaman Obat untuk Keadaan…
Maya A Pujiati on Kriteria "Poster Bel…
Mustain Arif, S.Si on Kriteria "Poster Bel…
infogue on Seberapa Penting Menjadi …
Anika on Kurikulum untuk Anak Usia…
rumahmainan on Memilih Mainan Anak
abuyahya on Tahun Baru dan Fotografi
Fathullah on Mendidik Anak Laki-Laki
Mikael Dewabrata on Mainan Baru dari Limbah Pohon …
Maya A Pujiati on Mainan Baru dari Limbah Pohon …
Maya A Pujiati on Mainan Baru dari Limbah Pohon …

Arsip

Blog Stats