Archive for February, 2008
Seberapa Penting Menjadi Jenius
Kejeniusan adalah berpikir dalam cara yang belum pernah dilakukan orang. Orang Jenius mampu melihat sesuatu yang luput dari penglihatan orang lain. Mereka melihat kemungkinan di antara ketidakmungkinan. Mereka bisa menjabarkan paket-paket pengetahuan yang diterimanya dalam cara baru dan produktif. (Todd Siler)
Definisi jenius yang saya kenal sebelumnya terakumulasikan dalam sosok-sosok Plato, Adam Smith, Thomas Alpha Edison, atau Einstein. Tentu sudah terbayang hebatnya orang jenius kalau kita melihat kredibilitas orang-orang tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, sekolah memperkenalkan sosok-sosok jenius itu hanya dalam teori-teorinya yang harus dihapal, diujikan, dan pada akhirnya dilupakan, karena secara kontekstual teori-teori itu hampir tak bisa dipahami dalam kehidupan nyata sehari-hari. Adapun apa sesungguhnya kejeniusan para tokoh tersebut nyaris tak terungkap.
Akibatnya, kejeniusan begitu mengawang, seolah tak tersentuh kecuali oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mau membaca buku-buku tebal dan betah berjam-jam berada di sebuah laboratorium. Padahal, kejeniusan tokoh-tokoh besar seperti Einstein dkk hanya terletak pada dua hal, yaitu kemauan untuk berpikir mendalam tentang sebuah fenomena dan berani untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Untuk melakukan dua hal tersebut, siapapun bisa, tak terkecuali anak-anak kita.
Nah, bagaimana kita mengarahkan anak-anak menjadi seperti itu? Kalau pendidikan itu hanyalah menghapal teori-teori, maka kejeniusan memang akan sulit dieksplorasi. Seorang Edison, seperti yang sudah kita tahu, ternyata melakukan ribuan kali percobaan yang gagal sebelum menemukan bola lampu listrik yang hari ini kita nikmati hasilnya. Demikian halnya dengan lahirnya teori Newton yang konon tercetus saat Newton berada di bawah pohon apel dan melihat buah apel jatuh ke tanah. Begitu juga dengan Wright bersaudara yang berhasil membuat pesawat terbang, tentu mereka telah melakukan banyak coba-coba sebelum hal itu terwujud. Semua fakta itu menunjukkan bahwa sesungguhnya, persentuhan dengan dunia nyata adalah jalan paling realistis menuju lahirnya para jenius-jenius baru. Membaur dengan dunia nyata akan menjadi pemantik gagasan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di dunia ini.
Jangan lupa, bahwa para jenius itu sebenarnya bertebaran di mana-mana, meski mungkin tak semua dikenal masyarakat luas. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menemukan dan membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Kelompok orang-orang itu di antaranya adalah penemu peniti, penemu jarum jahit, penemu karet gelang, pembuat tungku arang, para petani, para nelayan, dan lain-lain yang tanpa dijuluki seorang jenius, mereka sesungguhnya para praktisi iilmu pengetahuan di bidangnya masing-masing.
Jadi, terlebih bagi anak usia dini, pendidikan awal yang penting bagi mereka adalah banyak melihat ragam hal secara nyata. Tentang teori dari pengalaman-pengalaman yang mereka temui bisa ditelaah kemudian. Tak ada alasan bagi sekolah-sekolah yang ‘pas-pasan’ perlengkapan belajarnya untuk meniadakan eksperimentasi. Kalau laboratorium statis berupa ruangan sulit terealisasi gara-gara biaya, mengapa tak dicoba laboratorium dunia nyata yang seringkali bisa dijelajahi secara gratis.
Seberapa penting menjadi jenius? Jika pengertian jenius adalah hafal perkalian atau bisa menyelesaikan soal-soal persamaan dan pertidaksamaan, maka biarlah anak-anak tumbuh sesuai kemampuannya; tapi jika jenius itu berarti memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, maka betapa pentingnya menjadikan anak-anak kita jenius, karena bukankah esensi hidup adalah menyelesaikan persoalan…
Salam pendidikan!
1 comment February 5, 2008
Ketika Anak-Anak Berbicara
Berikut ini adalah rekaman beberapa dialog dengan anak saya yang masih berumur 3,5 tahun dalam seminggu terakhir. Percaya atau tidak, sesungguhnya anak-anak ternyata sudah berpikir analitis dan juga kritis.
Cicak Makan Apa?
Malam menjelang tidur, suami saya menangkap nyamuk dengan raket elektrik. “Tar! Tar!” terdengar suara pecahnya isi perut nyamuk yang menyentuh aliran listrik di raket. Setelah beberapa hari raket itu ada di rumah, tak biasanya, anak laki-laki saya mengomentari apa yang dilakukan papanya.
Awalnya dia bernyanyi,
Cicak cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap! lalu di tangkap
Lalu dengan polosnya dia berkata, “Harusnya nyamuk jangan dihilangin pake raket. Kan, nyamuk itu makanan cicak. Kalau nyamuknya dihilangin, cicak makan apa? makan cacing? Kan cacing hidupnya di tanah,”
Terang saja kami tertawa sekaligus terkejut.Kok bisa kepikiran sampai ke sana ya…
Pasirnya Wangi?
Waktu televisi menayangkan pemakaman mantan presiden Soeharto, kami menonton bersama-sama. Saat peti dimasukkan ke liang lahat, lagi-lagi Luqman, anak laki-laki saya bertanya, “Apa yang dimasukkan ke dalam tanah?”
Saya bilang, “Pak Harto?”
“Kenapa dimasukkan ke dalam tanah?” tanyanya lagi.
Saya bilang, “Karena Pak Harto sudah meninggal, sudah mati (untuk memudahkan dia mencerna)”
“Kenapa dia mati?” tanya dia makin penasaran.
“Karena dia sudah tua dan sakit”, kata saya.
Sebentar dia berpikir, lalu bertanya lagi, “Kalau sudah tua jadi mati?”
“Iya, karena dia juga sakit” lanjut saya.
Sesaat hening. Saya pikir tak akan ada lagi pertanyaan. Tapi ternyata, ketika liang lahat mulai ditimbun dengan pasir anak saya bertanya lagi, “Kenapa pasirnya dimasukkan ke situ?”
Saya bilang, “Pasir itu untuk menimbun petinya Pak Harto”
Tentu bukan anak kecil kalau dia tak penasaran. Berikutnya dia lanjut bertanya, “Kenapa petinya harus ditutup pasir?”
“Makhluk yang sudah mati itu akan berbau. Coba saja kalau ada tikus yang mati, bau kan? Supaya tidak bau, ya ditimbun dengan tanah atau pasir’.
“Jadi, pasirnya wangi? Iya Mama, pasirnya wangi ya?”
Begitulah, selanjutnya jelas pertanyaan beruntun pun berlanjut hingga tayangan habis. Kenapa kuburan itu dikasih bunga, kenapa orang-orang itu duduk di dekat makam, dan sebagainya.
Memangnya, Air Mandi Itu Mengandung Petir?
Sore itu hujan turun rintik-rintik. Suara petir bersahutan membuat anak-anak sedikit takut. Saya bilang sama anak-anak, sekarang mandinya dilap saja.
Luqman jelas selalu menolak untuk dilap. Dia lebih suka mandi. Tapi saya bilang, “Sekarang kan lagi ada petir, jadi dilap aja ya?!” Setelah itu dia diam, membiarkan bajunya dibuka. Saya pikir semua lancar dengan argumentasi itu. Tapi tanpa terduga, saat tubuhnya sedang dilap dia bertanya, “Jadi, air mandi itu mengandung petir ya Mama?”
Add comment February 1, 2008