Ketika Anak-Anak Berbicara

February 1, 2008

Berikut ini adalah rekaman beberapa dialog dengan anak saya yang masih berumur 3,5 tahun dalam seminggu terakhir. Percaya atau tidak, sesungguhnya anak-anak ternyata sudah berpikir analitis dan juga kritis.

Cicak Makan Apa?
Malam menjelang tidur, suami saya menangkap nyamuk dengan raket elektrik. “Tar! Tar!” terdengar suara pecahnya isi perut nyamuk yang menyentuh aliran listrik di raket. Setelah beberapa hari raket itu ada di rumah, tak biasanya, anak laki-laki saya mengomentari apa yang dilakukan papanya.

Awalnya dia bernyanyi,
Cicak cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap! lalu di tangkap

Lalu dengan polosnya dia berkata, “Harusnya nyamuk jangan dihilangin pake raket. Kan, nyamuk itu makanan cicak. Kalau nyamuknya dihilangin, cicak makan apa? makan cacing? Kan cacing hidupnya di tanah,”

Terang saja kami tertawa sekaligus terkejut.Kok bisa kepikiran sampai ke sana ya…

Pasirnya Wangi?
Waktu televisi menayangkan pemakaman mantan presiden Soeharto, kami menonton bersama-sama. Saat peti dimasukkan ke liang lahat, lagi-lagi Luqman, anak laki-laki saya bertanya, “Apa yang dimasukkan ke dalam tanah?”

Saya bilang, “Pak Harto?”
“Kenapa dimasukkan ke dalam tanah?” tanyanya lagi.
Saya bilang, “Karena Pak Harto sudah meninggal, sudah mati (untuk memudahkan dia mencerna)”
“Kenapa dia mati?” tanya dia makin penasaran.
“Karena dia sudah tua dan sakit”, kata saya.
Sebentar dia berpikir, lalu bertanya lagi, “Kalau sudah tua jadi mati?”
“Iya, karena dia juga sakit” lanjut saya.

Sesaat hening. Saya pikir tak akan ada lagi pertanyaan. Tapi ternyata, ketika liang lahat mulai ditimbun dengan pasir anak saya bertanya lagi, “Kenapa pasirnya dimasukkan ke situ?”
Saya bilang, “Pasir itu untuk menimbun petinya Pak Harto”
Tentu bukan anak kecil kalau dia tak penasaran. Berikutnya dia lanjut bertanya, “Kenapa petinya harus ditutup pasir?”
“Makhluk yang sudah mati itu akan berbau. Coba saja kalau ada tikus yang mati, bau kan? Supaya tidak bau, ya ditimbun dengan tanah atau pasir’.
“Jadi, pasirnya wangi? Iya Mama, pasirnya wangi ya?”

Begitulah, selanjutnya jelas pertanyaan beruntun pun berlanjut hingga tayangan habis. Kenapa kuburan itu dikasih bunga, kenapa orang-orang itu duduk di dekat makam, dan sebagainya.

Memangnya, Air Mandi Itu Mengandung Petir?
Sore itu hujan turun rintik-rintik. Suara petir bersahutan membuat anak-anak sedikit takut. Saya bilang sama anak-anak, sekarang mandinya dilap saja.

Luqman jelas selalu menolak untuk dilap. Dia lebih suka mandi. Tapi saya bilang, “Sekarang kan lagi ada petir, jadi dilap aja ya?!” Setelah itu dia diam, membiarkan bajunya dibuka. Saya pikir semua lancar dengan argumentasi itu. Tapi tanpa terduga, saat tubuhnya sedang dilap dia bertanya, “Jadi, air mandi itu mengandung petir ya Mama?”

Entry Filed under: opini. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Recent Posts

Komentar Anda

infogue on Mendesak: Kurikulum tentang…
infogue on Konsistensi: Cara Ideal untuk …
infoGue on Tanaman Obat untuk Keadaan…
Anonymous on Saatnya Pendidikan Menjadi Leb…
suwiku on Tanaman Obat untuk Keadaan…
Maya A Pujiati on Kriteria "Poster Bel…
Mustain Arif, S.Si on Kriteria "Poster Bel…
infogue on Seberapa Penting Menjadi …
Anika on Kurikulum untuk Anak Usia…
rumahmainan on Memilih Mainan Anak
abuyahya on Tahun Baru dan Fotografi
Fathullah on Mendidik Anak Laki-Laki
Mikael Dewabrata on Mainan Baru dari Limbah Pohon …
Maya A Pujiati on Mainan Baru dari Limbah Pohon …
Maya A Pujiati on Mainan Baru dari Limbah Pohon …

Arsip

Blog Stats